Fig Security Inc. memperkenalkan Figaro, sebuah agen kecerdasan buatan yang dirancang untuk membawa siklus hidup rekayasa penuh ke dalam operasi keamanan. Peluncuran ini memadukan agen AI dengan alat version control, pengujian, serta rollback yang selama ini lazim digunakan pengembang perangkat lunak.
Perusahaan asal Israel tersebut secara resmi meluncurkan Figaro sebagai bagian dari upaya mengatasi tantangan kronis dalam tim keamanan operasional. Dengan pendekatan ini, proses pengelolaan kebijakan keamanan dapat dilakukan secara terstruktur dan dapat diaudit layaknya pengiriman kode aplikasi.
Figaro memungkinkan tim keamanan menyimpan konfigurasi dan aturan keamanan dalam repositori versi. Setiap perubahan dapat melalui tahap pengujian otomatis sebelum diterapkan ke lingkungan produksi. Jika terjadi masalah, rollback dapat dilakukan dengan cepat untuk memulihkan kondisi sebelumnya.
Pendekatan ini mencerminkan evolusi praktik DevSecOps yang semakin matang. Tim keamanan kini dapat mengadopsi alur kerja yang sama dengan tim pengembang, sehingga mengurangi gesekan antara dua kelompok tersebut.
Salah satu dampak potensial adalah peningkatan kemampuan organisasi dalam merespons ancaman secara konsisten. Dengan adanya pengujian otomatis dan pencatatan versi, kesalahan manusia yang sering terjadi pada proses manual dapat diminimalkan.
Selain itu, integrasi CI/CD ke dalam operasi keamanan membuka peluang bagi perusahaan untuk menskalakan program keamanan tanpa harus menambah jumlah personel secara proporsional. Otomatisasi yang disediakan Figaro dapat menangani tugas berulang sehingga analis keamanan fokus pada analisis ancaman yang lebih kompleks.
Fig Security sendiri telah merilis produknya secara publik sejak Maret lalu. Peluncuran Figaro menandai langkah lanjutan perusahaan dalam membangun ekosistem yang mendukung seluruh siklus pengembangan dan pemeliharaan kontrol keamanan.
Dengan hadirnya alat seperti ini, industri keamanan siber diharapkan dapat bergerak menuju standar operasional yang lebih terukur dan dapat direproduksi. Hal tersebut penting mengingat volume dan kompleksitas ancaman yang terus meningkat di berbagai sektor.









